Jumat, 07 Februari 2025

Mengapa guru harus hadir sebagai sosok yang menginspirasi?


saya terkesima membaca kisah seorang guru di india pada muridnya yang dia sapa Karim, ketika sang guru mengajak muridnya menyaksikan baaimana membakar kertas dengan loop, dan ketika kertasnya terbakar beliau berpesan pada muridnya.... "Karim, if you focus on your work, you'll be amazed at what you can achieve." (Karim, jika kamu fokus pada pekerjaanmu, kamu akan kagum dengan apa yang bisa kamu capai) pesan yang sangat menginspirasi, istilah gen z: menyala abangku...... ini hanya salah satu dari sekian banyak kalimat yang menginspirasi abdul karim dari sang guru, yang kemudian menginspirasi dan membuat Abdul Kalam yang berasal dari keluarga biasa biasa saja namun tumbuh menjadi tokoh yang sangat cerdas, ahli since, dikenal sebagai bapak peluru kendali, ahli rudal, selain itu ia sukses menjadi presiden ke 12 india....

kita tau bahwa ada jutaan guru yang mengajar dan mempraktekkan hal serupa, namun tidak semua guru dapat menginspirasi muridnya dari peristiwa atau proses pembelajaran yang telah ia lakukan...., ada berbagai aktivitas mengajar yang dilakukan guru, guru punya begitu banyak momen atau peristiwa yang digunakan sebagai kesmepatan untuk menginspirasi muridnya, Lalu mengapa tidak semua menggunakan kesempatan tersebut sebaia momen yang sangat baik untuk menginspirasi murid? Padahal betapa pentingnya peran seorang guru dalam menginspirasi murid dan mengambil Hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi pada saat guru menjalankan perannya baik saat mengajar maupun mendidik.

sebab kehadiran seorang guru, terutama dalam perannya sebagai sosok inspirator bagi murid muridnya, kita kita flashback ke masa masa saat kita msh di bangku SD sampai sekolah menengah, kita bisa ingat dengan sangat jelas bahwa yang membuat kita suka terhadap mata pelajaran itu dimulai dari Guru, jika gurunya mengajar dengan cara menyenangkan, menarik, mudah dimengerti, gurunya baik, perhatian mengayomi dan memberikan teladan dan inspirasi, maka kita akan mulai suka dengan mata pelajaran yang guru tersebut ajarkan, begitu juga sebaliknya jika guru mengajarnya membosankan, njelimet dan semacamnya maka kita sebagai murid juga akan malas malasan masuk kelas. 

Jika seorang guru hadir sebagai seorang inspirator, bagi para muridnya, maka hal inilah yang akan menisakan kesan dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam kehidupan murid, sehingga murid dapat melampaui batas-batas ruang kelasnya, akan mendorong muridnya untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Mereka akan membuka cakrawala pemikiran murid sehingga mereka mampu melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas, sebab Ketika seorang murid merasa terinspirasi oleh gurunya, mereka akan memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka akan merasa bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat.

Sehingga Seorang guru yang inspiratif adalah aset berharga bagi dunia pendidikan. Inspirasi yang diberikan oleh guru akan menjadi bekal bagi murid untuk menghadapi tantangan di masa depan. Guru yang sperti inilah yang akan membuat murid menjadikan pendidikan sebagai adalah eskalator untuk mengubah masa depan, eskalator untuk mengubah taraf hidup, membuat murid tetap optimis, sehingga mereka dapat nyalakan lilin demi lilinimpian, membuat mereka dapat berlari menggapai gapailah bintang masa depan sesuai kodrat dan potensinya.

Hal inilah yang membuat guru tidak akan pernah dapat tergantikan oleh siapapun termasuk oleh teknologi canggih sekalipun, walaupun hari ini kita tau persis bahwa dengan kecanggihan teknologi, dimana teknologi bisa menyajikan pengetahuan dan keterampilan, yang terkini dengan AI, bisa menjawab pertanyaan apapun yang kita berikan, bahkan bisa berkali kali lipat lebih cerdas dibanding guru, tentang etika, tentang agama tentang tuhan tentang alam semesta, atau tentang apapun yang ingin anda ketahui teknologi bisa menyajikannya dengan sangat baik dan detail mengalahkan guru, teknologi juga dapat menyajikan gambaran tentang bagaimana berprilaku baik dan berprilaku buruk serta apa dampaknya.... 

Pertanyaan kritisnya adalah, guru seperti apa yang tidak bisa digantikan oleh teknologi? Guru yang tak tergantikan adalah guru yang tau bagaimana cara mengolah lahan yang cocok tau cara menumbuhkan potensi murid, guru yang tau bagaimana merawat, mempuk potensi murid yang ia tumbuhkan dan kemudian membuat murid dapat memanen hasil belajarnya dimasa yang akan datang, sebagaimana Kihadjar dewantara menaganalogikan guru ibarat seorang Petani, guru yang sperti ini tidak perlu khawatir dengan kecanggihan teknologi, tidak perlu berhadap hadapan dengan teklogi apalagi menjadikannya sebagai rival, melainkan justru dengan kecanggihan teknologi dapat ia manfaatkan untuk membantunya mewujudkan Impian muridnya. Diman guru dapat menggunakan berbagai sumber daya online, seperti video, simulasi, dan game edukasi, dan berbagai platform online untuk memfasilitasi pembelajaran kolaboratif siswa dalam aktivitas pembelajarannya.

Oleh karena itu sangat penting seorang guru memilih profesi guru atas dasar kesadaran dan kecintaan terhadap profesinya sehingga guru dapat menjiwai perannya sebagai seorang pendidik, bukan sebagai profesi atas dasar keterpaksaan karena tidak dapat survive dan mendapatkan pekerjaan lain lalu menjadikan profesi guru hany sekedar sebagai sandaran hidup untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi, sebab jika demikian maka yakinlah bahwa Ketika ia menjalankan peran seadanya saja, hanya sekedar mengajar materi Pelajaran dan ogah ogahan untuk menginspirasi, tidak mencerahkan, tidak punya geliat untuk meningkatkan kapasitasnya, tidak kreatif, tidak inovatif, cara mengajarnya repetitif dari tahun 0 sampai hari ini, tidak membangun suasana belajar yang interaktif dan dialogis serta tidak bisa menjadi roll model bagi murid, yang dipikirkan adlah kapan gajian kapan tunjangannya akan dibayarkan dan semacamnya, maka guru yang seperti ini bisa digantikan oleh teknologi, malah mungkin teknologi jauh lebih baik dari guru yang demikian.

nah pertanyaan berikutnya adalah kita semua yang berprofesi sebagai guru masuk kategori yang mana? Jawabannya ada pada diri kita masing masing.  Yang pasti adalah jika kita menolak kategori yang bisa digantikan teknologi, maka kita harus bertekad untuk terus menerus bergeliat meningkatkan kapasitas diri, terus menerus menginspirasi, lebih kritis, lebih kreatif, lebih inovatif, serta tidak kan berhenti berikhtiar untuk membangun suasana belajar yang lebih interaktif, lebih menyenangkan, lebih dialogis, lebih humanis dan yang terpenting harus menjadi roll model agar Ketika kita menjalankan peran menginspirasi murid maka guru terlebih dahulu melakukannya....

0 Comments:

Posting Komentar