Kali pertama saya mengenal sosok Paramoedya Ananta Toer adalah melalui bukunya Tetralogi Buru. Buku yang terdiri dari 4 seri yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Buku yang kaya bahasa sastra dan tinggi imajinasi ini begitu epik menarik perhatian saya, membawa saya tenggelam dalam bacaan, dan setiap sajian bahasanya seakan membawa saya menyelami dan mengalami peristiwa -peeristiwa yang di tulisan Pramoedya Anta Toer. Artinya kali pertama saya memahami Pram bukan dari biografinya ataupun perjalanan hidupnya, yang pertama saya kenali dari seorang Pram adalah imajinasinya, adalah karyanya, adalah sastranya yang begitu lezat disantap dalam Tetralogi Buruh.
Melalui stady Club "Demokratik" yang kami bentuk bersama kawan-kawan, kurang lebih waktu itu saya memasuki semester 3 perkuliahan. Kawan Rudhy Pravda -lah yang pertama kali memperkenalkan empat seri Tetralogi Buruh karya Pram. Melalui inisiatif yang disepakati secara bersama untuk membentuk study Club, saya pun terlibat dalam menjual buku kawan Rudy sekaligus mengoleksinya atau membelinya menjadi hak milik, ada beberapa buku yang saya koleksi diantaranya adalah Tetralogi Buruh. dan melalui Studi Club kecil itu saya mulai mengenal karya sastra Pramoedya Ananta Toer.
Yang paling membuat saya baper pengetahuan dari karya Pram adalah pesan Nyai Ontosoroh kepada Minke yang ditulis oleh Pram "Tahukah engkau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun, karena engkau menulis, suaramu takkan padam di telan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari", Pram menggambarkan karakter penjajah dikala itu, Annelis yang sudah menjadi Istri sah Minke harus dibawa ke Belanda dengan alasan yang tidak masuk akal, mau tidak mau Minke harus menanggung derita cinta yang sangat memilukan, perkawinan yang baru dimulai, baru seumur jagung dipaksakan oleh Belanda harus berpisah. Langkah yang dilakukan oleh Belanda itu adalah siasat untuk merebut kekayaan (sebuah perusahaan) Nyai Ontosoroh yaitu dengan cara melenyapkan ahli waris dalam hal ini adalah Annelis. Minke yang begitu mencintai Annelis tenggelam dalam kerinduan, kesedihan, dan derita batin yang membuatnya larut dalam nestapa. Melihat kondisi Minke seperti itu, Nyai Ontosoroh sebagai ibu mertua memberikan semangat dan mencoba memulihkan Minke.
Minke sendiri dalam Tetralogi Buruh sebenarnya adalah Tirto Adi Suryo, pendiri mendan Priyayi, surat kabar (Pers) pertama yang dimiliki oleh Pribumi Indonesia. Melalui surat kabar inilah aspirasi dan suara rakyat Indonesia mulai diakomodir untuk membangun persatuan melawan Hindia Belanda diawal tahun 1900.
Sastra Pram tidak tenggelam dalam imajinasi begitu saja, Pram mengungkapkan sejarah, watak penjajah, kondisi sosial, politik, dan pejuang Indonesia dikala itu dalam Tetralogi Buruh. Dan harus dicatat karya Pram tidak berdiri netral namun berpihak kepada Perjuangan Bangsa Indonesia, berpihak kepada kemanusiaan dan kebenaran serta menentang Kolonialisme dan Imperialisme. Dititik itulah Pram adalah sosok Sastrawan yang memiliki dedikasi yang begitu besar bagi Bangsa ini. Dedikasi yang harus dihargai, dan harus terus diperjuangkan oleh generasi Bangsa Saat ini.
Pram, saya anak generasi 2000-an menjuluki engkau sebagai Bapak Sastra Indonesia.

.jpg)
.jpg)
.png)
.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar