Selasa, 17 Juni 2025

BELAJAR TAK HARUS PELAJARAN DI SEKOLAH

 

"Kalau tidak ada PR, nanti anak tidak belajar."

"Itu namanya eksploitasi anak."

"Tugas anak harusnya belajar, bukan cuci piring."


Beberapa komentar yang sering saya dengar. Pertama sebelum masuk ke substansi, bahwa kita boleh berpendapat sesuai pandangan masing-masing. Itu tanda bahwa kita berpikir. Namun perlu juga kita terbuka dengan adanya pendapat yang berbeda. Kedua, kita tidak boleh fanatik. Fanatik adalah tanda kita tidak memiliki penalaran kritis. Fanatik hanya melahirkan pengikut (follower) yang hanya mengiyakan, entah baik atau buruk. Tentu kita harus memiliki pandangan yang merdeka atas segala fenomena yang terjadi.


Sekarang saya ingin masuk pada substansi, sebagai pandangan saya atas fenomena tersebut.

1. Belajar tidak hanya materi yang ada di sekolah. Ilmu itu sangat luas. Tidak boleh ada PR, bukan berarti anak tidak boleh belajar. Anak-anak tetap berhak, butuh dan wajib belajar. Termasuk ketika anak bermain, mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, membantu orang tua juga belajar. Namun, kita masih banyak yang menganggap bahwa belajar hanya materi-materi sekolah, sehingga menanggap tugas anak belajar, tapi mencuci piring bukan belajar. Padahal salah satu tujuan pendidikan adalah mencapai kemandirian. 

2. Eksploitasi anak dan pembelajaran itu tidak sama. Eksploitasi hanya bersifat mempertunjukkan anak, atau mengerahkan anak untuk kepentingan orang tua tanpa melihat perkembangan dan pembelajaran yang anak peroleh. Misalnya, mempertunjukkan anak joget-joget mengikuti tren tanpa adanya unsur pendidikan dan mengembangkan potensi anak (potensi tidak sama dengan penyimpangan), anak disuruh meng*mis di pinggir jalan, maka sudah masuk ranah eksploitasi. Tapi, misalnya jika anak diikut berdagang membantu orang tua dengan tujuan pembelajaran, dan mengembangkan potensi maka itu bukan eksploitasi. Banyak anak yang lupa dirinya sendiri karena sekolah menjauhkan dari kehidupan sosial ekonominya di lingkungan keluarganya. Anak nelayan tapi tidak bisa membaca arah angin, tidak bisa berenang, menentukan lokasi yang tepat untuk mencari ikan. Anak petani, tapi tidak tahu caranya bertani, tidak tahu menerapkan teknologi pertanian yang baik, tidak tahu mengembangkan pertanian yang baik. Itu karena pendidikan hanya dianggap sebatas materi sekolah, sedangkan banyak yang tidak diajarkan di sekolah.

3. Belajar terbaik adalah dari kehidupan dan pengalaman. Di sekolah, belajar kemudian ujian. Tapi dalam kehidupan, manusia diuji kemudian dapat belajar dari ujian. Maka, kita perlu menganggap bahwa kehidupan dan pengalaman adalah pelajaran yang berharga. Pengalaman adalah guru terbaik. Singa yang hebat dalam berburu, tidak dilatih dalam kandang penangkaran tapi di alam liar.

4. Kemandirian belajar perlu ditanamkan pada diri setiap anak. Persoalan mendasar pendidikan kita adalah antusiasme dan minat anak belajar yang rendah. Anak pada dasarnya senang belajar, karena secara fitrah anak memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang. Kadang tanpa sadar orang tua atau guru atau bahkan sistem pendidikan yang membuat anak tidak antusias lagi, minat belajarnya tersimpangkan. Misalnya dengan memaksa anak belajar tidak sesuai dengan potensinya, atau mencuci piring diajarkan dengan paksaan bukan dengan kesadaran bahwa anak perlu mandiri dan menjaga kebersihan. Maka yang terjadi minat belajar yang tinggi menjadi redup bahkan mati. Dengan kemandirian belajar dimulai dari cinta anak akan belajar, minat yang tinggi untuk mencari tahu (rasa ingin tahu), maka tidak ada lagi kalimat "tidak ada PR, tidak belajar."

0 Comments:

Posting Komentar