Saya sengaja menulis tentang satu kata yang begitu akrab di telinga mahasiswa: integritas. Ia bukan sekadar istilah, melainkan energi yang menggerakkan kesadaran, terutama bagi mereka yang pernah hidup dalam denyut aktivisme. Di kampus, organisasi, hingga meja-meja kopi, nilai ini didiskusikan dengan penuh keyakinan. Ia diperdebatkan, dipertahankan, bahkan dijadikan identitas moral.
Namun waktu selalu menjadi ujian yang nyaris tak berujung. Ketika masa depan datang bersama jabatan, pekerjaan dan kekuasaan, yang tersisa kadang hanya gema, tanpa praktik yang setia. Tentu kita hidup dalam era yang riuh oleh suara, tetapi kerap kehilangan arah. Dalam perspektif sosiologis, ini menyerupai noise society: ruang publik yang dipenuhi produksi wacana, namun miskin implementasi nilai.
Integritas hadir sebagai simbol yang nyaring diproses, tetapi perlahan kosong di masa depan. Lalu pertanyaannya: apakah nilai ini memang sulit dipertahankan atau kita yang terlalu mudah melepaskannya? Secara akademik, pemikiran James Rest dalam Moral Development: Advances in Research and Theory (1986) memberi penjelasan, bahwa moralitas tidak berhenti pada pengetahuan. Ia bergerak melalui empat tahap: moral sensitivity, moral judgment, moral motivation dan moral character.
Masalahnya, banyak orang berhenti di dua tahap awal, tahu dan paham. Padahal krisis terbesar justru terjadi pada tahap terakhir: keberanian untuk bertindak. Di sinilah muncul apa yang dalam etika disebut sebagai moral disengagement; ketika nilai yang diyakini terputus dari tindakan yang dijalankan. Karena itu, integritas bukan soal apa yang kita ucapkan, melainkan apa yang tetap kita lakukan meski tak ada yang melihat.
“Integrity is doing the right thing, even when no one is watching.” Kutipan ini terasa relevan di tengah budaya yang gemar mempertontonkan kebaikan. Banyak orang sibuk terlihat benar, tetapi tidak berupaya untuk benar-benar berbuat benar. Nilai berubah menjadi citra; prinsip bergeser menjadi panggung. Ada pola yang nyaris berulang dalam realitas sosial kita akhir-akhir ini.
Seorang anak muda pernah berdiri di jalanan: mengepal tangan, menyuarakan keadilan. Ia hidup bersama kegelisahan rakyat, menolak tambang yang merusak, mengkritik DPRD yang dianggap kehilangan keberpihakan. Tetapi ketika waktu berlalu. Gelar diraih, posisi didapat dan jalan menuju kekuasaan terbuka. Ia masuk ke dalam sistem: menjadi politisi, wartawan atau bagian dari struktur yang dulu ia lawan. Ternyata semuanya kosong.
Proses ini dalam kajian sosiologi politik dikenal sebagai co-optation: penyerapan individu kritis ke dalam sistem kekuasaan. Perubahan itu tidak meledak, ia merayap. Dulu ia mengepalkan tangan untuk rakyat, kini rakyat tinggal narasi. Dulu ia menolak tambang, kini hidup dari tambang. Dulu ia memarahi DPRD, kini duduk di dalamnya, lebih sering diam, asal setuju; selama SPPD berjalan, anggaran reses cair dan tunjangan meningkat.
Pada titik ini, yang hilang bukan sekadar idealisme, melainkan otonomi diri. Ia tidak lagi dikalahkan oleh kekuatan eksternal, tetapi oleh interen atau kompromi di dalam dirinya sendiri. Yang lebih dahsyat: kejatuhan itu sering tak terasa. Ia bukan hasil satu keputusan besar, melainkan akumulasi dari pembenaran kecil yang terus diulang, padahal itu salah.
Dalam psikologi moral, ini disebut incremental ethical erosion: pengikisan nilai secara perlahan hingga seseorang tak lagi menyadari jarak antara dirinya yang dulu dan yang sekarang. Maka benar, yang endemik hari ini bukan nilai integritasnya melainkan kesetiaan untuk menjaganya. Karenanya, tulisan ini bukan sekadar kritik. Ia adalah panggilan dan pesan. Sadarlah, wahai anak muda yang pernah hidup di jalanan. Yang pernah percaya bahwa keberanian bisa mengubah arah zaman. Untuk mahasiswa dan aktivis konsistenlah sekarang dan sampai anda tiba di masa depan nanti.
Tetapi Integritas juga tidak selalu berjalan mulus. Ia bisa tergelincir, bahkan jatuh. Tetapi yang menentukan bukanlah apakah kita pernah kehilangan arah, melainkan apakah kita bersedia kembali. Yang belum terjebak, jagalah komitmen itu sekuat mungkin.
Yang sedang terjebak, pulanglah. Sebab integritas tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kesadaran untuk terus memperbaiki diri.
Ia tumbuh dari keberanian untuk bangkit, dari kesediaan untuk setia dan dari pilihan untuk tidak menyerah pada kompromi yang menyesatkan. Di tengah kebisingan zaman ini, kita tidak harus menjadi yang paling lantang. Cukup menjadi yang tetap setia,
pada nilai, pada nurani dan pada diri yang dulu pernah berjanji untuk tidak akan pernah berubah.

.jpg)
.jpg)
.png)
.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar