Kamis, 17 Oktober 2024

Dari PRAKTIK BAIK Hingga KALIBER (Kolaborasi dan Berbagi)


PENGELOLAAN KELAS TERINTEGRASI TEKNOLOGI
 

A.     PENDAHULUAN

Setiap anak atau siswa adalah individu yang unik. Mereka memiliki perbedaan dalam berbagai hal. Mulai dari gaya belajar, minat dan kesiapan belajar.  Keunikan dan kekhasan yang melekat pada setiap anak atau siswa itu, sekiranya perlu terfasilitasi dengan baik.

Di sekolah Guru memiliki tanggung jawab untuk menfasilitasi keunikan dan kekhasan anak atau siswa tersebut agar setiap anak bisa  tumbuh dan berkembang  sesuai potensinya.

Dalam rangka memfasiltasi keunikan dan kekhasan siswa, salah satu caranya Guru harus menerapkan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran sesuai dengan implementasi kurikulum merdeka.

Faktanya pembelajaran berdiferensiasi didalam ruang kelas belum maksimal. Dampaknya hasil belajar siswa rendah. Ada kendala mengapa pembelajaran berdiferensiasi belum maksimal yakni fasilitas terbatas. 

Fasilitas yang terbatas guru kesulitan menyediakan sumber belajar dan media pendukung pembelajaran sehingga gaya belajar anak tidak terakomodir. Tetapi praktik baik yang saya lakukan yakni pengelolaan kelas terintegrasi teknologi berhasil mengatasi permasalahan tersebut.

 Praktik baik  itu berangkat dan kekawatiran dan kegelisahan saya yang selanjutnya saya akan uraikan dalam Alur STAR dan akan melampirkan video praktik baik dibagian penutup tulisan ini.

 Praktik baik ini saya merasa perlu menggambarkannya disini sebab praktik baik inilah yang selanjunya saya jadikan agenda  "KALIBER" (Kolaborasi dan  Berbagi) baik instasi, organisasi profesi maupun komunitas belajar.


B.      ISI

1.      SITUASI

Di UPTD SMAN 1 Mehalaan, siswa unik dan khas. Baik dari segi minat,bakat, kebutuhan belajar pun gaya belajar itu sendiri. Hasil asesmen diagnostik non kognitif diketahui  siswa memiliki tiga gaya belajar yang ditunjukkan dalam diagram berikut:


 

(Hasil persentase gaya belajar Peserta didik)

Keberhasilan Penerapan pembelajaran berdiferensiasi, ada beberapa hal menjadi penunjangnya. Termasuk sumber belajar, media pendukung pembelajaran serta model pembelajaran yang sesuai agar gaya belajar siswa bisa terfasilitasi.

              Di UPTD SMAN 1 Mehalaan, penerapan pembelajaran berdiferensiasi belum  berjalan makasimal. Guru belum maksimal menerapkan pembelajaran berdiferensiasi karena penunjangnya seperti sumber belajar baik teks dan file sangat terbatas. Media pendukung seperti video, gambar dan infografis kurang inovatif. Selain itu model strategi pembelajaran yang dipilih belum sesuai. Ketiga hal tersebut siswa yang unik dan khas belum terakomodir gaya belajarnya. Dampaknya hasil belajar siswa rendah.

       Situasi diatas terkonfirmasi hasil raport pendidikan bahwa Ditahun 2023 lalu, SMAN 1 Mehalaan masih terdapat indikator yang perlu dibenahi yakni kualitas pembelajaran. Didalam indikator tersebut ada beberapa subindikator yang perlu ditingkatkatkan, salahsatunya metode pembelajaran.

            

 

 

Hasil belajar siswa rendah bisa terlihat dalam  pembelajaran yang telah saya lakukan Unit “Pancasila dan UUD NRI 1945”  Fase E kelas X dengan jumlah siswa 22 orang. Asesmen yang penulis lakukan hasilnya seperti yang tergambar dalam diagram Berikut :


 


(Diagram persentase hasil Asesmen Peserta didik sebelum melakukan praktik baik)

Penerapan pembelajaran diferensiasi yang kurang maksimal, utamanya diferensiasi Konten dan Proses, Siswa jenuh dan kurang semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Alih-alih mencapai tujuan pembelajaran, memahami sebagian materi siswa kesulitan.

Namun setiap masalah pasti ada solusinya. Dengan mengedepankan cara berpikir aset, maka keterbatas bukan jadi penghalang Agar pembelajaran Berdiferensiasi maksimal,  Inovasi pembelajaran yang telah saya lakukan di UPTD SMAN 1 Mehalaan adalah PENGELOLAAN KELAS TERINTEGRASI TEKNOLOGI DAN SUMBER BELAJAR DIGITAL MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING STATION.

Mengapa Praktik Baik ini Penting

Praktik baik ini penting bahwa ditengah permasalahan-pemasalahan belajar diruang kelas, menggunakan teknologi dan sumber belajar digital menjadi salah satu solusi. Dengan Teknologi bisa menghadirkan pembelajaran yang berkualitas. Teknologi bisa dimamfaatkan guru dalam menyiapkan sumber belajar dan media pendukung pembelajaran yang kreatif, bukan semata mengandalkan buku teks, dalam rangka menghadirkan pembelajaran Berdiferensiasi diruang kelas

              Dan Praktik baik ini  penting saya bagikan ke GTK-GTK yang hebat dimanapun berada, bahwa kita yang dekat dengan digital, beraneka ragam platform-paltform teknologi lahir, sesungguhnya itu adalah peluang, memamfaatkannya dalam pembelajaran untuk menhadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif adalah niscaya, bisa menyelesaikan sekelumit masalah yang tengah kita hadapi didalam ruang kelas.

Peran dan tanggung jawab saya

Peran saya dalam praktik baik ini adalah sebagai penginisiatif dan pelaku.  Sebagai  seorang guru saya memiliki tanggung jawab menghadirkan pembelajaran yang berdiferensiasi, kreatif, inovatif, bermakna dan menyenangkan untuk menjawab kebutuhan belajar siswa.

2.      TANTANGAN

1.)Tantangan dalam menjalankan praktik baik ini adalah mampukah saya menyiapkan sumber belajar beragam, media pendukung menarik dan memilih model pembelajaran yang tepat dalam rangka penerapan pembelajaran Berdiferensiasi?2.) Turunan dari tantangan pertama adalah mampukah saya menghadirkan metode pembelajaran untuk membenahi kualitas pembelajaran sesuai dengan rapor pendidikan?

Pihak yang terlibat dalam praktik ini

Dalam menjalankan praktik baik ini tentu dengan sendiri tidak bisa terlaksana. Saya melibatkan selain saya sebagai Guru, juga Murid, Rekan sejawat dan tentu kepala Sekolah yang telah memberikan suport moral dalam melaksanakan praktik baik ini

3.      AKSI

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan

Dalam rangka menghadapi tantangan yang telah saya uraikan diatas, maka saya :

1)Menyiapkan berbagai  sumber belajar yang relevan sesuai kebutuhan belajar murid. 2) Membuat desain media pendukung pembelajaran yang menarik. 3) Memilih model pembelajaran yang relevan

saya telah mengembangkan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) https://muhhusain.github.io/muhammadhusanigassmpi.github.io/ . MPI ini bisa dikases menggunak laptap, chromebook dan handphone. MPI ini saya kembangkan untuk menunjang digitalisasi dan pembelajaran diferensiasi disekolah.  Di MPI ini saya menggabungkan beberapa Media, seperti teks, infografis, video, dan kuis yang telah saya desain menarik. Mengakomodir gaya belajar siswa

Selain itu Saya juga memamfaatkan PMM untuk mencari teks,video dan asesmen sesuai kebutuhan dan minat siswa. Saya menggunakan Rumah Belajar dan buku.kemendikbud.go.id untuk mencari sumber belajar tambahan. saya juga telah membuat perpustakaan digital https://sites.google.com/view/muhaverroeshusain/koleksi-buku yang telah terisi kurang lebih 1000 buku pdf. Saya arahkan siswa mengunjungi perpustakaan digital tersebut untuk mencari referensi tambahan terkait materi pembelajaran.

Ragam konten, baik MPI, Perpustakaan digital serta teks,  video, gambar, infografis, dan media pendukung lain yang telah saya kumpulkan dari beragam sumber belajar  seperti PMM, Linknya saya tautkan di Google Classroom. Saya memamfaatkan Google Classrom untuk mengelolah dan mengorganisir materi serta tugas-tugas siswa secara online dan real time. Saya juga  memberikan feedback langsung kepada siswa. 

Canva for Education saya gunakan untuk membuat presentasi, video, gambar dan infografis yang menarik. selain Penyampaian Materi menjadi mudah dipahami, animasi yang saya desain dibantu AI (artificial Intelegence) siswa menjadi lebih senang menonton, mengamati dan mencermati media tersebut.

Google dengan berbagai produknya juga saya mamfaatkan dalam pembelajaran. Salah satunya google doc saya gunakan untuk pengerjaan tugas secara kolaboratif. Aksesnya yang saya ubah menjadi semua pelihat adalah editor, sehingga siswa berkerjasama dengan temannya dalam mengerjakan tugas yang saya berikan secara online.

Untuk mengevaluasi siswa, saya memamfaatkan google form, quizizz, wordwall dan educaplay untuk membuat permainan interaktif seperti drag and drop, katak melompat, pengejaran dalam labirin yang sudah saya sesuaikan dengan topik. Pilihan asesmen yang bervariasi dan feedback otomatis sehingga dapat langsung memperbaiki kesalahan membuat siswa termotivasi dan tidak membosankan karena dalam pengerjaanya mereka merasa seperti sedang bermain game bahkan mereka meminta mengulang mengerjakannya untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.

Terakhir, Saya menggunakan Padlet sebagai alat bantu siswa mengungkapkan perasaannya dan berefleksi terkait pembelajaran. Fitur interaktif yang disediakan padlet sangat membantu saya mendapatkan umpan balik langsung tentang pemahaman mereka, saya bisa menyusaikan pembelajaran secara cepat. Siswa merasa lebih terlibat karena bisa berinteraksi langsung dengan materi. Bukan hanya menerima secara pasif.

Keseluruhan Penggunaan teknologi yang saya gunakan dalam praktik baik ini membantu saya memantau perkembangan siswa secara real time. Siswa juga lebih senang membaca materi, mengerjakan kuis menggunakan android ketimbang menggunakan kertas.

Teknologi dan sumber belajar digitas diatas, Saya menggunakan Model pembelajaran Learning Station yang saya anggap relevan memenuhi kebtuhan belajar murid. membagi siswa dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok mengunjungi station sesuai pentunjuk yang saya berikan.

Strategi dan bagaimana pelaksanaanya

1)Saya melakukan asesemen diagnostik menggunakan Quiziz, saya memetakan kemampuan awal siswa dan membentuk kelompok. Siswa saya bagi dalam 4 kelompok. 2) Selanjutnya saya mempersiapkan semua media yang akan saya gunakan dalam aktivitas pembelajaran. 3) Setelah semua siap, saya masuk kedalam aktivitas pembelajaran menggunakan model Learning station. Adapun sintaks leraning station sebgai berikut :

a. Membagi siswa kedalam beberapa kelompok

b. Menentukan jenis station dan pergerakan siswa ke station.

Dalam model pemebelajaran Leraning Station ini, saya membuat 5 Station. Saya menyediakan berbagai macam media di setiap station. Station 1, saya menyediakan MPI yang telah saya kembangkan. Station 2, Video dan teks yang telah saya ambil di PMM. Station 3, Membaca komik yang bisa diakses di perpustakaan digital SMAN 1 mehalaan yang telah saya buat. Setelah mambaca Komik, mengisi Asesmen via Googl form. Station 4, Game edukasi menggunakan aplkasi Educaplay.

Setiap kelompok punya waktu 10 menit di setiap Station. Setelah sampai 10 menit masing-masing kelompok bergeser ke station berikutnya. Kelompok yang titik berangkatnya di station 1, akan bergeser ke station 2, dan begitu seterusnya.

Saya menyediakan berbagai macam media di setiap station, semua anak akan melewatinya. Bisa jadi ada anak yang cukup dengan teks sudah paham. Bisa jadi dengan teks plus video bisa paham. Bisa jadi dengan teks, video, komik dan media pendukung lain.  Disini saya tidak mengkotak-kotakkan anak atau dikelompokkan berdasarkan gaya belajar. Misal ada anak yang hanya belajar video atau ada anak yang hanya belajar menggunakan Audio. Menurut saya itu malah membatasi anak.

Setelah semua kelompok mengunjungi station, selanjutnya ada station 5, atau station Bersama. Di station ini siswa mendiskusikan topik permasalahan yang telah saya siapkan. Siswa menjawab topik permasalahan sesuai dengan bekal yang sudah didapat ketika selesai mengunjungi 4 station. Saya memakai google doc yang linknya telah saya tautkan di google classroom. Setelah mereka selesai mengerjakan, tugas diserahkan ke classroom. Saya bisa memantau secara real time progres pengumpulan tugas mereka.

c. Ringkasan materi

              tahap selanjutnya, saya merevium ulang materi dari awal dan mempersilahkan siswa untuk bertanya terkait materi. Selanjutnya saya memberi penguatan

d. Penilaian dan refleksi

              Tahap terakhir, saya melakukan asesmen formatif. Untuk asesmen ini saya menggunakan aplikasi Wordwall “Pengejaran dalam Labirin”.  Game menantang ini siswa berlari ke zona jawaban yang benar sambil menghindari musuh. Asesmen berbentuk game ini sangat disukai siswa karena sesuai dengan minat mereka diera digital ini. Setelah melakukan asesmen formatif, selanjutnya refleksi bersama. Saya menggunakan Padlet dalam refleksi. Siswa menuangkan perasaannya selama proses pembelajaran dan menuliskan apa yang belum dipahami.

Siapa yang terlibat

Dalam praktik baik ini yang terlibat saya sebagai guru mata pelajaran dan siswa. Selain itu rekan sejawat juga sangat membantu saya dalam merekam video.

Sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai strategi ini

Dalam pelaksanaan praktik baik ini, sumber daya yang saya butuhkan adalah

a.      Sarana dan Prasarana Jaringan wifi, dalam hal ini saya menggunakan wifi sendiri yang saya siapkan sebagai alternatif jika jaringan tidak stabil

b.      Gadget. Hanya satu siswa yang tidak memiliki gedget karena rusak dan saya meminjamkan gedget saya pada saat pembelajaran berlangsung

c.       Orang tua siswa yang menyiapkan kuota internet untuk anaknya

d.      Dukungan kepala sekolah dan rekan sejawat selama praktik baik saya lakukan

e.      Kemampuan saya menggunakan platform-platform media digital setelah mengkuti pelatihan PEMBATIK dan Google Master Trainer

1.      REFLEKSI

Setelah saya melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan mengintegrasikan dengan teknologi dan sumber belajar digital menggunakan model pembelajaran learning Station, berdasarkan observasi dan penilaian yang dilakukan dampaknya bisa terlihat ketika siswa antusias mengikuti pembelajaran dan hasil asesmen pada topik “Pancasila” adalah 97 persen siswa paham utuh dan 3 persen paham sebagian. 3 persen paham sebagian karena pada pertemuan sebelumnya  tidak sempat hadir mengikuti pelajaran karena sedang persiapan Jambore Pramuka. Tapi untuk yang 3 persen ini saya sudah memberikan pembelajaran tambahan. Artinya praktik baik ini menunjukkan hasil yang baik.

 

 

                        (Diagram persentase Asesmen Peserta didik pasca melakukan praktik baik)

Peserta didik mencapai hasil yang baik, faktor keberhasilannya karena sumber belajar yang beragam, media pendukung yang menarik dan model pembelajaran yang sesuai sehingga gaya belajar siswa terakomodir. Selain itu, sebagai guru harus selalu melakukan pengembangan profesional,dan selalu berkarya dengan inovasi-inovasi untuk mewujudkan Kurikulum merdeka.


c.       PENUTUP

Demikian Praktik baik yang telah saya lakukan, sekiranya praktik baik ini  akan memenuhi fungsinya bilamana menjadi referensi bersama dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi dalam implementasi kurikulum merdeka. selanjutnya saya akan desiminasikan lewat Gerakan KALIBE, sebagai penutp berikut video praktik Baik yang telah saya lakukan


 

0 Comments:

Posting Komentar