Setiap Guru memiliki cerita unik untuk dibagikan. Jangan ragu untuk membagikan kisah, pengalaman maupun tantangan yang pernah anda hadapi, Karena dari setiap cerita kita dapat belajar dan tumbuh bersama.

MUH. HUSAIN

Setiap Guru memiliki cerita unik untuk dibagikan. Jangan ragu untuk membagikan kisah, pengalaman maupun tantangan yang pernah anda hadapi, Karena dari setiap cerita kita dapat belajar dan tumbuh bersama.

Selasa, 17 Juni 2025

BELAJAR TAK HARUS PELAJARAN DI SEKOLAH

 

"Kalau tidak ada PR, nanti anak tidak belajar."

"Itu namanya eksploitasi anak."

"Tugas anak harusnya belajar, bukan cuci piring."


Beberapa komentar yang sering saya dengar. Pertama sebelum masuk ke substansi, bahwa kita boleh berpendapat sesuai pandangan masing-masing. Itu tanda bahwa kita berpikir. Namun perlu juga kita terbuka dengan adanya pendapat yang berbeda. Kedua, kita tidak boleh fanatik. Fanatik adalah tanda kita tidak memiliki penalaran kritis. Fanatik hanya melahirkan pengikut (follower) yang hanya mengiyakan, entah baik atau buruk. Tentu kita harus memiliki pandangan yang merdeka atas segala fenomena yang terjadi.


Sekarang saya ingin masuk pada substansi, sebagai pandangan saya atas fenomena tersebut.

1. Belajar tidak hanya materi yang ada di sekolah. Ilmu itu sangat luas. Tidak boleh ada PR, bukan berarti anak tidak boleh belajar. Anak-anak tetap berhak, butuh dan wajib belajar. Termasuk ketika anak bermain, mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, membantu orang tua juga belajar. Namun, kita masih banyak yang menganggap bahwa belajar hanya materi-materi sekolah, sehingga menanggap tugas anak belajar, tapi mencuci piring bukan belajar. Padahal salah satu tujuan pendidikan adalah mencapai kemandirian. 

2. Eksploitasi anak dan pembelajaran itu tidak sama. Eksploitasi hanya bersifat mempertunjukkan anak, atau mengerahkan anak untuk kepentingan orang tua tanpa melihat perkembangan dan pembelajaran yang anak peroleh. Misalnya, mempertunjukkan anak joget-joget mengikuti tren tanpa adanya unsur pendidikan dan mengembangkan potensi anak (potensi tidak sama dengan penyimpangan), anak disuruh meng*mis di pinggir jalan, maka sudah masuk ranah eksploitasi. Tapi, misalnya jika anak diikut berdagang membantu orang tua dengan tujuan pembelajaran, dan mengembangkan potensi maka itu bukan eksploitasi. Banyak anak yang lupa dirinya sendiri karena sekolah menjauhkan dari kehidupan sosial ekonominya di lingkungan keluarganya. Anak nelayan tapi tidak bisa membaca arah angin, tidak bisa berenang, menentukan lokasi yang tepat untuk mencari ikan. Anak petani, tapi tidak tahu caranya bertani, tidak tahu menerapkan teknologi pertanian yang baik, tidak tahu mengembangkan pertanian yang baik. Itu karena pendidikan hanya dianggap sebatas materi sekolah, sedangkan banyak yang tidak diajarkan di sekolah.

3. Belajar terbaik adalah dari kehidupan dan pengalaman. Di sekolah, belajar kemudian ujian. Tapi dalam kehidupan, manusia diuji kemudian dapat belajar dari ujian. Maka, kita perlu menganggap bahwa kehidupan dan pengalaman adalah pelajaran yang berharga. Pengalaman adalah guru terbaik. Singa yang hebat dalam berburu, tidak dilatih dalam kandang penangkaran tapi di alam liar.

4. Kemandirian belajar perlu ditanamkan pada diri setiap anak. Persoalan mendasar pendidikan kita adalah antusiasme dan minat anak belajar yang rendah. Anak pada dasarnya senang belajar, karena secara fitrah anak memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang. Kadang tanpa sadar orang tua atau guru atau bahkan sistem pendidikan yang membuat anak tidak antusias lagi, minat belajarnya tersimpangkan. Misalnya dengan memaksa anak belajar tidak sesuai dengan potensinya, atau mencuci piring diajarkan dengan paksaan bukan dengan kesadaran bahwa anak perlu mandiri dan menjaga kebersihan. Maka yang terjadi minat belajar yang tinggi menjadi redup bahkan mati. Dengan kemandirian belajar dimulai dari cinta anak akan belajar, minat yang tinggi untuk mencari tahu (rasa ingin tahu), maka tidak ada lagi kalimat "tidak ada PR, tidak belajar."

Senin, 09 Juni 2025

Deep Learning Sebuah Upaya Untuk Menghadapi Badai di Samudera Zaman Menuju Indonesia Emas 2045

"Pendidikan Tradisional telah berlayar lama, namun badai perubahan menuntut peta baru.  Deep Learning, dengan kompas karakter, kewarganegaraan, dan kreativitas, menuntun kita ke pelayaran yang lebih bermakna."

Bayangkan dunia pendidikan sebagai sebuah kapal besar yang terombang-ambing di lautan luas. Kapal ini, bernama "Pendidikan Tradisional", telah berlayar selama berabad-abad, membawa para pelaut muda yang haus akan pengetahuan. Namun, badai perubahan telah menerjang, mengguncang kapal hingga ke pondasinya. Para pelaut muda mulai kehilangan semangat, merasa terkurung dalam dek yang membosankan, dan merindukan petualangan di luar batas kapal. Di saat yang genting ini, sebuah cahaya baru muncul di cakrawala, sebuah kapal baru bernama "Deep Learning", yang menjanjikan pelayaran yang penuh makna dan tantangan. Kapal ini menawarkan peta baru yang menuntun para pelaut muda untuk menjelajahi lautan pengetahuan yang luas, bukan hanya dengan mengumpulkan harta karun, tetapi juga dengan mengembangkan kompetensi untuk berlayar di tengah badai dan mengarungi lautan yang tak terduga. Kapal Deep Learning memiliki enam kompas utama: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis, yang menjadi penuntun mereka dalam menghadapi tantangan dan menemukan makna dalam setiap pelayaran.

Kapal Deep Learning tidak hanya menawarkan peta baru, tetapi juga mengubah cara berlayar. Para pelaut muda tidak lagi menjadi penumpang pasif, tetapi menjadi nakhoda yang aktif, menentukan arah pelayaran mereka sendiri. Mereka berkolaborasi dengan sesama pelaut, dengan para ahli di daratan, dan dengan keluarga mereka, menciptakan sebuah jaringan yang kuat dan saling mendukung. Mereka memanfaatkan teknologi sebagai angin yang mendorong layar mereka, membuka cakrawala baru dan memperluas jangkauan pelayaran mereka. Mereka belajar dari pengalaman, baik yang sukses maupun yang gagal, dan terus mengembangkan keterampilan mereka untuk menjadi pelaut yang tangguh dan berwawasan luas.

 Kapal Deep Learning tidak hanya berlayar di lautan pengetahuan, tetapi juga berlayar di lautan kehidupan. Para pelaut muda belajar untuk menjadi warga negara dunia yang peduli, yang mampu menyelesaikan masalah kompleks dan berkontribusi pada kesejahteraan bersama. Mereka belajar untuk menghargai perbedaan, membangun hubungan yang kuat, dan mengasah kreativitas mereka untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

 Namun, perjalanan ini tidaklah mudah.  Terdapat sirene-sirene yang menggoda, berupa sistem pendidikan yang terstruktur dan terkotak-kotak, yang berusaha untuk menarik para pelaut muda kembali ke dek yang membosankan.  Terdapat juga jurang kesenjangan yang menganga, berupa ketimpangan sosial yang mengancam untuk menenggelamkan kapal Deep Learning.  Namun, dengan tekad yang kuat, para pelaut muda dan para nakhoda yang berpengalaman terus berlayar, berkolaborasi, dan belajar,  mencari solusi untuk mengatasi tantangan, dan membangun masa depan yang lebih adil dan sejahtera. Deep Learning bukan hanya sebuah kapal, tetapi sebuah gerakan yang menjanjikan pelayaran yang penuh makna dan tantangan, yang akan membawa para pelaut muda menuju masa depan yang lebih cerah.


Sabtu, 17 Mei 2025

Guru Penggerak Dan Permendikdasmen No 7 Tahun 2025


"Sertifikat guru penggerak tidak terpakai sekarang ya?"

Beberapa teman nge-japri setelah ramai kabar permendikdasmen nomor 7 tahun 2025. Dua pesan itu hanya sample dari beberapa pesan lain yang senada. Aku jawab dengan setengah becanda. "Lho kan di sertifikat memang tidak tertulis masa berlakunya, trus dari mana kita tahu sertifikat itu tidak berlaku lagi?". Jawaban lainnya adalah "Kalau mau jadi kepala sekolah kan masih bisa tanpa harus menyebut 'aku ini guru penggerak', tinggal daftar aja dan ikuti prosedurnya. Pahami mekanismenya."

Dua jawaban yang mungkin terkesan becanda itu sebenarnya sudah sangat menjawab. Aku becanda tapi serius. Sikapku juga terlihat dari jawabanku itu. 

...

Jani gidi guys—eh, jadi gini. Kebijakan pemerintah, sebagaimana hidup, itu dinamis dan cair. Hari ini diagungkan, esok bisa diuji ulang oleh realitas. Maka ketika kabar itu datang bahwa sertifikat Guru Penggerak tak lagi jadi syarat utama untuk menjadi kepala sekolah, mari kita pahami. Boleh kecewa. Boleh kaget. Bahkan boleh merasa dikhianati. Ternyata bukan cuma mantan yang bisa bikin kecewa, ya kan?

Tapi mari kita ajukan satu pertanyaan yang lebih dalam. Tetot, tuh kan lagi-lagi aku menyebut kata "dalam". Sejak kapan kepemimpinan ditentukan oleh kepemilikan sertifikat? Apakah seseorang jadi lebih layak memimpin hanya karena ia punya lembaran sertifikat?

Aku sepakat, Program Pendidikan Guru Penggerak adalah inisiatif yang visioner. Tapi menjadikannya satu-satunya jalan menuju kursi kepala sekolah? Itu seperti eksklusifitas. Di luar sana, banyak guru yang tak ikut program ini, tapi setiap hari menjalankan kepemimpinan sejati—tanpa titel, tanpa sorotan. Mereka memimpin dari ruang kelas, dari ruang guru, dari kegiatan ekstrakurikuler. Mereka adalah pemimpin karena praktik sehari-hari. Maka ketika peluang dibuka lebih luas, aku melihat ini bukan kemunduran, melainkan koreksi. Bahkan mungkin, pembebasan.

Aku tahu, banyak yang kecewa. Wajar. Modul-modul sudah ditamatkan, lokakarya sudah dijalani, proyek perubahan sudah dirancang. Tapi izinkan aku bertanya jujur, kalau sejak awal ikut program ini hanya karena ingin jadi kepala sekolah, apakah kita tidak sedang keliru niat? Kepala sekolah, ingat, itu bukan jabatan. Itu tugas tambahan dari jabatan fungsional Guru. Jadi tak seharusnya kita memperlakukannya seperti promosi karier di perusahaan. Program Pendidikan Guru Penggerak sendiri awalnya tidak lahir sebagai "pabrik" pencetak kepala sekolah. PPGP hadir sebagai penyulut perubahan. Baru belakangan, arah itu berubah, setelah empat angkatan. Yuk buka sejarahnya biar jangan lupa.

Aku tetap percaya, ini keyakinan pribadiku, banyak "alumni" Program Pendidikan Guru Penggerak yang akan jadi kepala sekolah. Tapi bukan karena mereka punya sertifikat Guru Penggerak. Melainkan karena mereka memang layak. Karena mereka terus bergerak, meski tak lagi digerakkan.

Dan satu hal yang patut diapresiasi dari regulasi baru ini yaitu peningkatan sistem seleksi. Kenapa begitu? Saringannya sekarang lebih halus. Ada seleksi administrasi, seleksi substansi dan pelatihan bakal calon kepala sekolah bagi yang lulus di dua seleksi sebelumnya. Semua itu menuju satu hal, meritokrasi. Yang layak, yang mampu, yang kompeten, yang terbukti, itulah yang terpilih. Bukan yang karena punya kedekatan dengan orang dalam atau karena karena pernah mensukseskan pilkada 🤭.

Yang lulus proses seleksi awal sampai akhir dapat apa? Sertifikat juga sih 😄.

...

Mau jadi kepala sekolah atau tidak, pertanyaan yang lebih penting adalah ini: apakah kita masih bergerak? Apakah kita masih belajar, masih menyalakan obor perubahan, masih memimpin dari mana pun posisi kita? Sertifikat bisa disimpan. Bisa dipajang. Tapi semangatnya, jangan dibiarkan menguning oleh debu kebijakan.

Jadi, mari kita terima kenyataan ini bukan sebagai kemunduran, tapi sebagai pembebasan.

Selasa, 15 April 2025

KOLABORASI ANTAR BUDAYA DI INDONESIA

 

Indonesia adalah negara yang memayungi berbagai kebudayaan di dalamnya. Kebinekaan budaya difasilitasi dan dimajukan. Tak hanya itu, Indonesia memfasilitasi segala macam ragam kebudayaan yang berkolaborasi dari Sabang sampai Merauke. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan dari Aceh hingga Papua. Mari kita cermati komposisi para peserta Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Di dalamnya, ada 70 anggota yang berlatarbela kang suku dan agama yang tidak sama. Tak hanya menghormati, kebudayaan-kebudayaan yang ada, baik dalam sebuah negara atau kebudayaan antarnegara, sebaiknya membangun sebuah kerja nyata yang menunjukkan bagaimana perbedaan itu bisa mendorong harmonisasi. Kolaborasi antarbudaya bisa menjadi agenda berikutnya. Kolaborasi merupakan sebuah kerja sama yang dilakukan, baik individu maupun kelompok. Mereka yang terlibat dalam kerja sama itu mendasarkan dirinya pada nilai yang disepakati, komitmen yang dijaga serta keinginan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa perbedaan latar belakang budaya, tidak menghalangi siapapun untuk bisa bekerja bersama-sama. Dengan semangat kolaboratif, jati diri yang berbeda itu bisa bergandengan tangan menciptakan prakarya kebudayaan. Karena bersifat kolaborasi, maka identitas-iden titas yang turut di dalamnya tidak kehilangan jati dirinya. Persis seperti gambaran tentang jati diri bangsa Indonesia yang berasal dari keragaman identitas yang masih sangat terjaga, meski dalam satu waktu, ada identitas yang secara bersama-sama dise pakati sebagai identitas nasional

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya akan keragamannya. Mulai dari suku, ras, agama, dan lainnya. Hal inilah yang membuat Indonesia memiliki beragam budaya. Hampir tiap daerah di Indonesia punya budaya khasnya. Agar budaya-budaya ini bisa makin dikenal dan dihargai oleh masyarakat luas, maka diperlukan kolaborasi budaya. Kolaborasi budaya adalah kerja sama antarindividu atau kelompok yang mewakili berbagai aspek budaya Indonesia. Kegiatan ini melibatkan unsur budaya dari berbagai wilayah, seperti Jawa, Sumatra, Bali, Sulawesi, hingga Papua.

Dalam kolaborasi ini, tiap elemen budaya memberikan inspirasi dalam menciptakan suatu karya yang harmonis.

Contoh Kolaborasi Antar Budaya di Indonesia

Kolaborasi antar budaya dilakukan untuk mempromosikan keberagaman budaya dan memperkuat kesatuan bangsa.

Negara kita memiliki banyak contoh kegiatan kolaborasi antar budaya yang ada di Indonesia. Berikut diantaranya:

1. Festival Musik

Festival musik sering menghadirkan beragam jenis musik dari berbagai budaya yang memungkinkan terjadi kolaborsi budaya.

Para musisi dari berbagai daerah di Indonesia dapat saling berkolaborasi dalam pertunjukan bersama.

Mereka bisa menciptakan musik yang menggabungkan unsur-unsur dari berbagai tradisi musik, teman-teman.

Di Indonesia contohnya ada Festival Musik Yogyakarta yang biasanya rutin diselenggarakan tiap tahun.

Dalam Festival Musik Yogyakarta, ditampilkan musik tradisional dari berbagai daerah, seperti Sunda, Jawa, dan Bali.

2. Festival Tari Nusantara

Selain musik, Indonesia juga punya banyak sekali tarian. Hampir tiap daerah punya tarian tradisional yang khas.

Pada kegiatan ini, ditampilkan tarian kolaborasi dari berbagai adat di Indonesia dalam satu tempat yang sama.

Lewat Festival Tari Nusantara, kita bisa melihat dan mengenal berbagai tarian dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia kalau negara kita punya budaya yang sangat kaya.

Dengan begitu, ini bisa mendorong masyarakat untuk terus menghargai dan melestarikan tarian nusantara.

3. Festival Kuliner Nusantara

Masing-masing daerah di Indonesia memiliki resep masakan yang berbeda-beda. Hampir semua khas dan unik.

Seiring perkembangan zaman, kuliner Indonesia mulai tenggelam karena banyak makanan cepat saji.

Oleh karena itu, pengadaan Festival Kuliner Nusantara bisa dilakukan sebagai wujud kolaborasi antar budaya.


Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa bangga masyarakat atas warisan kuliner Nusantara dari rempah-rempah.

Selain itu, kegiatan ini juga bisa memberikan ruang dan peluang UMKM di bidang kuliner untuk kian berkembang.

4. Upacara Kemerdekaan di Istana Negara

Upacara Kemerdekaan di Istana Negara Jakarta adalah salah satu contoh kolaborasi antar budaya di Indonesia, lo.

Ini karena selain memperingati kemerdekaan, nantinya di sana juga ada hiburan berupa pertunjukan budaya.

Misalnya, paduan suara yakni Gita Bahana Nusantara yang menggabungkan lagu daerah dari Sabang-Merauke.

Selain itu, disajikan pula seni tari, seni bela diri, seni alat musik tradisional yang datang dari berbagai daerah.

Saat upacara, kita juga bisa melihat pakaian adat dari banyak daerah di Indonesia yang dipakai oleh tamu undangan.

5. Kolaborasi Batik dan Pakaian Modern

Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang telah jadi bagian penting dari identitas budaya bangsa.

Kolaborasi antara batik dan busana modern merupakan contoh nyata bagaimana budaya tradisional bisa ikuti zaman.

Ketika batik digabungkan dengan desain busana modern, terjadi kolaborasi budaya yang hasilkan karya baru.

Ini akan memadukan keindahan motif-motif tradisional dengan gaya busana yang lebih modern dan universal.

Kolaborasi ini mencerminkan bagaimana budaya Indonesia bisa terus beradaptasi dengan perubahan zaman.


ALASAN MENGAPA PERLU KOLABORASI

1. Melestarikan dan Mengelola Keberagaman

Alasan pertama mengapa kita perlu mengadakan kolaborasi budaya adalah untuk melestarikan keberagaman.

Seperti kita tahu, keberagaman yang ada di sekitar kita merupakan salah satu kekayaan bangsa.

Dengan keberagaman itu, banyak masyarakat luar negeri yang tertarik berkunjung ke negara kita.

Lewat adanya kegiatan kolaborasi budaya, maka keberagaman budaya lokal bisa terus lestari, teman-teman.

2. Memperkenalkan Budaya

Kita perlu mengadakan kegiatan kolaborasi budaya untuk mengenalkan suatu daerah ke daerah lain.

Tidak terbatas di dalam negeri atau daerah lain, kita juga bisa mengenalkan budaya hingga ke luar negeri.

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk mengenalkan budaya, misalnya mengunggah foto di media sosial.

Dengan mengenalkan budaya lokal, maka budaya akan dikenal oleh masyarakat luas dan lebih lestari.

3. Saling Menghargai Perbedaan

Seperti kita tahu, kolaborasi budaya mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari daerah yang berbeda.

Kolaborasi budaya ini penting untuk melihat kalau perbedaan budaya ini bukan penyebab pertentangan

ebaliknya, kebudayaan harus dipahami sebagai sesuatu yang berharga dan harus ada hingga generasi mendatang.

Lewat kegiatan kolaborasi budaya, kita bisa menghargai berbagai perbedaan budaya dan menghindari konflik.

Selain itu, kita juga bisa membentuk rasa kekeluargaan dari perbedaan yang dipahami sebagai sebuah kesatuan.

4. Mengembangkan Kecerdasan Budaya

Kolaborasi budaya membentuk lingkungan lintas budaya yang dapat mengembangkan kecerdasan, lo.

Kecerdasan budaya adalah keterampilan seseorang untuk menerapkan kebudayaan di lingkungan sekitar.

Kecerdasan budaya bisa berkembang saat kita mampu menghormati dan menyesuaikan diri pada budaya tertentu.

5. Mengembangkan Kreativitas

Alasan lain mengapa kita perlu mengadakan kolaborasi budaya adalah untuk mengembangkan kreativitas kita.

Sebab, kolaborasi budaya bisa menciptakan perpaduan dua budaya atau lebih. Itulah yang disebut kreativitas.

Dengan adanya kreativitas, kolaborasi budaya bisa menyesuaikan zaman dan menarik minat masyarakat.

Senin, 03 Maret 2025

Tanpa Judul

S


Sembari menunggu waktu bersantap Sahur, untuk membunuh waktu yang ada,  saya mau bagi tips. Upss, mungkin tidak layak dikatakan sebagai tips. Semberanglah nanti saudara2 menyebutnya apa.  Bukan tips jadi kaya raya di musim sakit-sakitan atau jadi YouTubers terkenal karena bagi-bagi uang. Tentu bukan itu.

Tips ini perihal muda-mudi. Jika misal sekarang umurmu diantara 18-30 tahun, saya fikir cocok dengan tanpa mengatakan sangat disarankan sampai selesai. 😁

Kendati demikian, umurmu kini baru 8-17 tahun, sangat disarankan jangan membacanya karena dapat berbahaya dan membuat candu anak orang (baper) 😁.

Kalaupun umurmu kini 31-50 tahun, wah hati-hatilah membacanya sebab rumahtanggamu bisa renggang bahkan bisa tambah rukun.

Tips jitu ini bisa manjur dan juga bisa garing tergantung penerapannya pada situasi dan kondisi tertentu dan jangan lupa "ingat umur".

Nah Tips ini saya namakan  tips gombalan ala filsuf, mohon disimak dan dibaca sampai selesai, jika berhasil segera hubungi  saya 😀, namun jika sebaliknya maka anda belum beruntung 😭. Buntung deh..

1. Dek..jika Thales mengatakan air ialah prinsip dasar alam semesta, maka aku menimpali; bagiku dirimulah alasan dasar aku bisa hidup di alam ini.

2. Bang, kamu tahu si Anaximander.! Orang yunani itu mengatakan; Dasar alam semesta ini tidak berdasar (apeiron) sama kayak cintaku pada abang, tanpa alasan, penjelas. Pokonya aku suka..

3. Dek..mengapa aku benci angka dua.! Kenapa-kenapa, sebab aku hanya ingin kita tetap bersatu, bersama bukan diduakan. Begitulah cinta Phytagoras.

4. Kenapa pada saat berdekatan dengan Abang "aku selalu nyaman" tau ngga kenapa.! Sebab kita ditakdirkan menyatu menjadi Yin-li ala Kong Hu Chu.

5. Dek..Apa bedanya dirimu dengan Socrates.! Apa coba; Socrates diingat karena dialektikanya, dirimu tak perlu diingat,..sebab tak pernah pergi dari hidupku.

6. Plato aja mendirikan Akedemia tuk anak muridnya, masa abang ngga mau dirikan rumah tangga tuk kita dan anak-anak kita.

7. Semau manusia pasti menikah, kita berdua ialah manusia, Maka dirimu tak lain ialah jodohku. Sabda Aristoteles.

8. Jika Bagi Aquinas "bahasa Allah" ialah bahasa Tak bergerak, tertinggi. Maka Ijab Kabul dari abang merupakan bahasa kerinduan dan harapan terendahku.

9. Mencintaiku tak perlu secerdik kancil & sebengis singa dek,.sebab itu ajaran Machiavelli, cukuplah seperti kupu-kupu yang terus memberi kehidupan pada bunga.

10. Kita ibarat sepasang serigala titah Hobbes, olehnya kita perlu mengontrol ego masing-masing agar menjadi kekuatan cinta, saling melengkapi.

11. Dek..apa kesamaanmu dengan Descartes.! Apa bang,.kalian sama-sama menjuarai; Descartes menjuarai abad modern, sedang dirimu menjuarai hatiku kini hingga hayat.

12. Apa buktinya Abang cinta ke saya.! Bukankah kamu ini cantik dek, tidakah cukup bunga yang kukasih kemarin..tidak bang; fisik bisa keriput, bunga bisa layu dan ini cinta para empirik seperti Locke. Aku tak suka itu 😇

13. Dek..mengapa Berkeley dikenal dengan bapak idealis meski ngga idealis amat.! Kenapa bang,.begitulah juga soal cinta ideal; ia akan kandas pada persyaratan pendidikan & pekerjaan. 😎

14. Kenapa abang takut ke rumah.! Bukankan mahar & restu orang tua hanya asosiasi David Home. Sebab orang tua sejatinya cukup diberitahu & mahar itu sabdanya tidak memberatkan 😰

15. Dek..napa bang. Aku pengen cinta kita layaknya kontrak sosial Rousseau. Idealnya itu cuman; Ada wali, 2 mempelai, 2 saksi & ijab kabul. Selanjutnya bersama mengarungi samudera kehidupan

16. Bukankah mencintai itu fitrah manusia, demikian juga kita telah diciptakan berpasang-pasangan. Lalu mengapa engkau menolaknya.! Mengapa harus mencari di luar (jika dlm rumah udah ada calon), kemudian mencari dalih tidak cocok, tidak sesuai kriteria. Ini Kantian

17. Dek.. kehidupan ini kita berdua yang jalanin, iya terus mengalir. Jadi mau kah dirimu hidup bersamaku. Kita menikah, mempunyai anak lalu mati (tesis, anti tesis & sintetis-Hegel).

18. Dek..apa kesamaanmu dengan Revolusi.! Apa coba; sama-sama butuh jalan. Jika Revolusi turun ke jalan dirimu cukup diajak jalan-jalan. Tuan Marx

18.1. Dek..tau ngga, kenapa komunis itu identik berwarna merah.! Ngga tau bang, sebab jika berwarna kuning itu tanda pernikahan kita.

18.2. Dek..Tidak ada definisi sosialisme lain yang valid bagi kita selain memandangmu sebagai manusia oleh manusia. Aku sebenarnya berharap kau tetap disampingku.

18.3. Abang tau ngga kenapa cinta harus butuh bukti.! Wah gimana itu,.sebab "bukti meteril" merupakan dasar untuk meletakkan suprastruktur diatasnya. Misal; Cinta juga butuh makan, perawatan, butuh ongkos katanya. Masa mau membangun rumah tangga, tapi ngga ada rumahnya 😀😎

19. Dek.. kita tidak perlu membunuh tuhan kaya Nietzsche. Namun yang perlu kita bunuh ialah rasa takut kita. Takut akan hidup susah setelah menikah, takut berpisah dari orang tua.

20. Kenapa Russell bisa dikatai ateis-romantik.! Kasusnya akan sama dengan rumah tangga yang dibangun tanpa landasan cinta, suka-sama suka.

Ruwet, pusing kan..! Sama, aku juga pusing. "Siapa yang membaca sungguh-sungguh maka dapatlah ia" 😀😎👇

21. Cintaku padamu tak perlu hegemoni, kita cukup bercumbu tentang keterbukaan, berorasi tentang keadilan dan berpeluk mesra dalam tanggung jawab. -Gramsci

22. Cintaku padamu tak butuh Falsifikasi Poperian, jika adinda tak keberatan esok Abang menghadap ke rumah.

23. Cukup bagi negara yang mempunyai Apparatus, cinta kita biarkan kita yang jalani. -Althusser

24. Biarkan Arkeolog Foucault yang mencari asal usul pengetahuan, latar belakangmu akan kututupi dengan komitmen cintamu padaku.

25. Masalah kita tak serumit modern, kita hanya butuh komunikasi dan saling pengertian. -Habermas

25.1. Kecantikan, pendidikan, kekuasaan itu bisa didekonstruksi. Namun yang paling sulit ialah kata TIDAK darimu. -Derrida

25.2. Kita hanya mencari alasan membela diri, padahal sudah jelas bin terang kisah kita tertulis dalam Subyek Lauhul Mahfudz. -Zizek

Namun tunggu dulu, saya mau tambahkan bonus pendapat Filsafat Islam. Biar lengkap

1. Bagaimana mungkin ada 2 cinta di hati Abang, sedang melepaskanmu saja berat rasanya. -Ibn Sina

2. Cinta kita laksana cahaya matahari, apa maksudnya itu.! Selalu memberikan cahaya kerinduan. Jika jauh ku rindu, namun dekat ku serba salah 😱-Suhrawardi

3. Kamu tahu kenapa aku membenci malam dek.! Sebab malam hanya fatamorgana, sedang dirimu nyata lagi Haqq.-Ibn Arabi

4. Mana mungkin aku membohongi diriku sendiri, sedang kedua bola mataku melihat dirimu dan dirinya. Dapatkah aku mengingkari konsep yang badihi ini.! -Mulla Shadra

4.1. Dapatkah kita mengatakan orang ketiga, sedang kita telah menyatu "nafs wahidah". - Shadra.

5. Kalau boleh jujur dirimu di alam mimpiku sungguh nyata. Namun tidak tuk nyatanya, sungguh nyiksa.-Gazali 👹😀

Namun karena cuaca dingin, dan jaket yang saya pakai ini sudah 2 Minggu tidak di cuci, saya sudahi dulu

Selamat menanti waktu bersantap sahur..


Kamis, 20 Februari 2025

Runtuhnya Identitas Bagi Generasi Muda

 Identitas Nasional merupakan istilah yang terdiri dari dua kata yaitu identitas dan nasional. Identitas adalah ciri-ciri, jati diri atau tanda yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang berguna untuk membedakannya dengan yang lainnya. Sementara nasional adalah berkaitan dengan kelompok sosial yang terikat oleh kesamaan, baik kesamaan budaya, agama, fisik, keinginan, atau cita-cita. Jika digabungkan maka, identitas nasional adalah kepribadian nasional atau jati diri nasional yang dimiliki suatu bangsa yang membedakan bangsa satu dengan bangsa yang lainnya. Fungsi dari identitas nasional ini yaitu sebagai landasan negara, sebagai pembeda dari negara lainnya, dan juga sebagai alat untuk mempersatukan bangsa. 

Fungsi sebagai landasan negara yaitu dapat membantu negara tersebut untuk berkembang, serta dapat mewujudkan cita-cita bangsa tersebut. Lalu sebagai pembeda dari negara lain dikarenakan setiap negara memiliki keunikan, karakteristik yang berbeda beda, tentu itu yang membuat suatu negara menjadi khas dan dapat diketahui perbedaannya, serta menjadi jati diri dari negara tersebut. Identitas itu tidak lupa untuk terus dikembangkan supaya tidak punah atau hilang. Fungsi terakhir yaitu sebagai alat mempersatukan bangsa, sehingga kehidupan sosial dapat berjalan dengan aman dan damai. Tanpa adanya identitas nasional, suatu bangsa akan sulit untuk dipersatukan dan berjalan bersama.

Ada beberapa unsur dari identitas negara Indonesia yaitu bendera Sang Merah Putih, Bahasa Indonesia, lambang negara Garuda Pancasila, semboyan bangsa Bhinneka Tunggal Ika, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dasar falsafah Pancasila, konstitusi negara UUD 1945, bentuk negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem pemerintahan Indonesia (pasal 35 dan 36 UUD 1945)

Semakin pesatnya perkembangan era globalisasi memberikan ruang bagi siapa saja terutama generasi muda untuk lebih mengenal dan memahami cara berpikir dan kebudayaan bangsa lain. Namun tidak sedikit generasi muda Indonesia yang telah melupakan identitas bangsanya yang berdampak pada hilangnya rasa nasionalisme. Belakangan ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan beredarnya sebuah rekaman video yang menampilkan aksi seorang pemuda, yang membakar bendera merah putih. Setelah diadakan investigasi diketahui pelaku adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Malaysia. Sebagian besar rasa nasionalisme kurang berkembang dengan baik pada generasi muda. Hal ini disebabkan antara lain karena minimnya pemahaman mereka terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan kurang mendapat perhatian dari mereka. Oleh karena itu, untuk meningkatkan rasa nasionalisme, generasi muda perlu menambah wawasan sejarah dan melestarikan budaya Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan supaya generasi muda selalu ingat dengan identitas nasional yang telah diperjuangkan dengan susah payah. Menghargai upacara bendera sebagai bagian menghargai jasa pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih mengibarkan sang saka merah putih di seluruh negeri. Lebih baik generasi muda belajar sedari kecil apa itu identitas nasional dan maknanya, sehingga kelak beranjak dewasa dapat memaknai identitas negara tersebut. Dengan demikian generasi muda akan mempunyai pemahaman yang luas tentang Identitas Nasional Indonesia dan selalu menjaga sebagai jati dirinya sendiri. 

Minggu, 09 Februari 2025

Selamat Hari Pers Nasional dan 100 Hari Pramoedya Ananta Toer

Kali pertama saya mengenal sosok Paramoedya Ananta Toer adalah melalui bukunya Tetralogi Buru. Buku yang terdiri dari 4 seri yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Buku yang kaya bahasa sastra dan tinggi imajinasi ini begitu epik menarik perhatian saya, membawa saya tenggelam dalam bacaan, dan setiap sajian bahasanya seakan membawa saya menyelami dan mengalami peristiwa -peeristiwa yang di tulisan Pramoedya Anta Toer. Artinya kali pertama saya memahami Pram bukan dari biografinya ataupun perjalanan hidupnya, yang pertama saya kenali dari seorang Pram adalah imajinasinya, adalah karyanya, adalah sastranya yang begitu lezat disantap dalam Tetralogi Buruh. 


Melalui stady Club "Demokratik" yang kami bentuk bersama kawan-kawan, kurang lebih waktu itu saya memasuki semester 3 perkuliahan. Kawan Rudhy Pravda -lah  yang pertama kali memperkenalkan  empat seri Tetralogi Buruh karya Pram. Melalui inisiatif yang disepakati secara bersama untuk membentuk study Club, saya pun terlibat dalam menjual buku kawan Rudy sekaligus mengoleksinya atau membelinya menjadi hak milik, ada beberapa buku yang saya koleksi diantaranya adalah Tetralogi Buruh. dan melalui Studi Club kecil itu saya mulai mengenal karya sastra Pramoedya Ananta Toer. 


Yang paling membuat saya baper pengetahuan dari karya Pram adalah pesan Nyai Ontosoroh kepada Minke yang ditulis oleh Pram "Tahukah engkau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun, karena engkau menulis, suaramu takkan padam di telan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari", Pram menggambarkan karakter penjajah dikala itu, Annelis yang sudah menjadi Istri sah Minke harus dibawa ke Belanda dengan alasan yang tidak masuk akal, mau tidak mau Minke harus menanggung derita cinta yang sangat memilukan, perkawinan yang baru dimulai, baru seumur jagung dipaksakan oleh Belanda harus berpisah. Langkah yang dilakukan oleh Belanda itu adalah siasat untuk merebut kekayaan (sebuah perusahaan) Nyai Ontosoroh yaitu dengan cara melenyapkan ahli waris dalam hal ini adalah Annelis. Minke yang begitu mencintai Annelis tenggelam dalam kerinduan, kesedihan, dan derita batin yang membuatnya larut dalam nestapa. Melihat kondisi Minke seperti itu, Nyai Ontosoroh sebagai ibu mertua  memberikan semangat dan mencoba memulihkan  Minke. 


Minke sendiri dalam Tetralogi Buruh sebenarnya adalah Tirto Adi Suryo, pendiri mendan Priyayi, surat kabar (Pers) pertama yang dimiliki oleh Pribumi Indonesia. Melalui surat kabar inilah aspirasi dan suara rakyat Indonesia mulai diakomodir untuk membangun persatuan melawan Hindia Belanda diawal tahun 1900. 


Sastra Pram tidak tenggelam dalam imajinasi begitu saja, Pram mengungkapkan sejarah, watak penjajah, kondisi sosial, politik, dan pejuang Indonesia dikala itu dalam Tetralogi Buruh. Dan harus dicatat karya Pram tidak berdiri netral namun berpihak kepada Perjuangan Bangsa Indonesia, berpihak kepada kemanusiaan dan kebenaran serta  menentang Kolonialisme dan Imperialisme.  Dititik itulah Pram adalah sosok Sastrawan yang memiliki dedikasi yang begitu besar bagi Bangsa ini. Dedikasi yang harus dihargai, dan harus terus diperjuangkan oleh generasi Bangsa Saat ini.


Pram, saya anak generasi 2000-an menjuluki engkau sebagai Bapak Sastra Indonesia. 


Jumat, 07 Februari 2025

Mengapa guru harus hadir sebagai sosok yang menginspirasi?


saya terkesima membaca kisah seorang guru di india pada muridnya yang dia sapa Karim, ketika sang guru mengajak muridnya menyaksikan baaimana membakar kertas dengan loop, dan ketika kertasnya terbakar beliau berpesan pada muridnya.... "Karim, if you focus on your work, you'll be amazed at what you can achieve." (Karim, jika kamu fokus pada pekerjaanmu, kamu akan kagum dengan apa yang bisa kamu capai) pesan yang sangat menginspirasi, istilah gen z: menyala abangku...... ini hanya salah satu dari sekian banyak kalimat yang menginspirasi abdul karim dari sang guru, yang kemudian menginspirasi dan membuat Abdul Kalam yang berasal dari keluarga biasa biasa saja namun tumbuh menjadi tokoh yang sangat cerdas, ahli since, dikenal sebagai bapak peluru kendali, ahli rudal, selain itu ia sukses menjadi presiden ke 12 india....

kita tau bahwa ada jutaan guru yang mengajar dan mempraktekkan hal serupa, namun tidak semua guru dapat menginspirasi muridnya dari peristiwa atau proses pembelajaran yang telah ia lakukan...., ada berbagai aktivitas mengajar yang dilakukan guru, guru punya begitu banyak momen atau peristiwa yang digunakan sebagai kesmepatan untuk menginspirasi muridnya, Lalu mengapa tidak semua menggunakan kesempatan tersebut sebaia momen yang sangat baik untuk menginspirasi murid? Padahal betapa pentingnya peran seorang guru dalam menginspirasi murid dan mengambil Hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi pada saat guru menjalankan perannya baik saat mengajar maupun mendidik.

sebab kehadiran seorang guru, terutama dalam perannya sebagai sosok inspirator bagi murid muridnya, kita kita flashback ke masa masa saat kita msh di bangku SD sampai sekolah menengah, kita bisa ingat dengan sangat jelas bahwa yang membuat kita suka terhadap mata pelajaran itu dimulai dari Guru, jika gurunya mengajar dengan cara menyenangkan, menarik, mudah dimengerti, gurunya baik, perhatian mengayomi dan memberikan teladan dan inspirasi, maka kita akan mulai suka dengan mata pelajaran yang guru tersebut ajarkan, begitu juga sebaliknya jika guru mengajarnya membosankan, njelimet dan semacamnya maka kita sebagai murid juga akan malas malasan masuk kelas. 

Jika seorang guru hadir sebagai seorang inspirator, bagi para muridnya, maka hal inilah yang akan menisakan kesan dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam kehidupan murid, sehingga murid dapat melampaui batas-batas ruang kelasnya, akan mendorong muridnya untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Mereka akan membuka cakrawala pemikiran murid sehingga mereka mampu melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas, sebab Ketika seorang murid merasa terinspirasi oleh gurunya, mereka akan memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka akan merasa bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat.

Sehingga Seorang guru yang inspiratif adalah aset berharga bagi dunia pendidikan. Inspirasi yang diberikan oleh guru akan menjadi bekal bagi murid untuk menghadapi tantangan di masa depan. Guru yang sperti inilah yang akan membuat murid menjadikan pendidikan sebagai adalah eskalator untuk mengubah masa depan, eskalator untuk mengubah taraf hidup, membuat murid tetap optimis, sehingga mereka dapat nyalakan lilin demi lilinimpian, membuat mereka dapat berlari menggapai gapailah bintang masa depan sesuai kodrat dan potensinya.

Hal inilah yang membuat guru tidak akan pernah dapat tergantikan oleh siapapun termasuk oleh teknologi canggih sekalipun, walaupun hari ini kita tau persis bahwa dengan kecanggihan teknologi, dimana teknologi bisa menyajikan pengetahuan dan keterampilan, yang terkini dengan AI, bisa menjawab pertanyaan apapun yang kita berikan, bahkan bisa berkali kali lipat lebih cerdas dibanding guru, tentang etika, tentang agama tentang tuhan tentang alam semesta, atau tentang apapun yang ingin anda ketahui teknologi bisa menyajikannya dengan sangat baik dan detail mengalahkan guru, teknologi juga dapat menyajikan gambaran tentang bagaimana berprilaku baik dan berprilaku buruk serta apa dampaknya.... 

Pertanyaan kritisnya adalah, guru seperti apa yang tidak bisa digantikan oleh teknologi? Guru yang tak tergantikan adalah guru yang tau bagaimana cara mengolah lahan yang cocok tau cara menumbuhkan potensi murid, guru yang tau bagaimana merawat, mempuk potensi murid yang ia tumbuhkan dan kemudian membuat murid dapat memanen hasil belajarnya dimasa yang akan datang, sebagaimana Kihadjar dewantara menaganalogikan guru ibarat seorang Petani, guru yang sperti ini tidak perlu khawatir dengan kecanggihan teknologi, tidak perlu berhadap hadapan dengan teklogi apalagi menjadikannya sebagai rival, melainkan justru dengan kecanggihan teknologi dapat ia manfaatkan untuk membantunya mewujudkan Impian muridnya. Diman guru dapat menggunakan berbagai sumber daya online, seperti video, simulasi, dan game edukasi, dan berbagai platform online untuk memfasilitasi pembelajaran kolaboratif siswa dalam aktivitas pembelajarannya.

Oleh karena itu sangat penting seorang guru memilih profesi guru atas dasar kesadaran dan kecintaan terhadap profesinya sehingga guru dapat menjiwai perannya sebagai seorang pendidik, bukan sebagai profesi atas dasar keterpaksaan karena tidak dapat survive dan mendapatkan pekerjaan lain lalu menjadikan profesi guru hany sekedar sebagai sandaran hidup untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi, sebab jika demikian maka yakinlah bahwa Ketika ia menjalankan peran seadanya saja, hanya sekedar mengajar materi Pelajaran dan ogah ogahan untuk menginspirasi, tidak mencerahkan, tidak punya geliat untuk meningkatkan kapasitasnya, tidak kreatif, tidak inovatif, cara mengajarnya repetitif dari tahun 0 sampai hari ini, tidak membangun suasana belajar yang interaktif dan dialogis serta tidak bisa menjadi roll model bagi murid, yang dipikirkan adlah kapan gajian kapan tunjangannya akan dibayarkan dan semacamnya, maka guru yang seperti ini bisa digantikan oleh teknologi, malah mungkin teknologi jauh lebih baik dari guru yang demikian.

nah pertanyaan berikutnya adalah kita semua yang berprofesi sebagai guru masuk kategori yang mana? Jawabannya ada pada diri kita masing masing.  Yang pasti adalah jika kita menolak kategori yang bisa digantikan teknologi, maka kita harus bertekad untuk terus menerus bergeliat meningkatkan kapasitas diri, terus menerus menginspirasi, lebih kritis, lebih kreatif, lebih inovatif, serta tidak kan berhenti berikhtiar untuk membangun suasana belajar yang lebih interaktif, lebih menyenangkan, lebih dialogis, lebih humanis dan yang terpenting harus menjadi roll model agar Ketika kita menjalankan peran menginspirasi murid maka guru terlebih dahulu melakukannya....