Sabtu, 16 November 2024

Program Guru Penggerak Penting ?

    Akhir-akhir urgensi pentingnya program guru Penggerak diragukan Oleh Beberapa pihak. Tnetu dengan alasan yang beragam. Salah satu alasan yang pernah saya baca di dimedia sosial adalah bahwa Guru Penggerak tidak memiliki dampak apa-apa dalam memajukan Pendidikan. Tentu sah-sah saja sebagian orang beranggapan demikian tapi menurut saya pendapat itu tidak sepenuhnya benar. 

    Secara konseptual program guru penggerak ini bagus. Lalu apakah ada Implikasi terhadapan peningkatan pendidikan? lagi-lagi menurt saya jika semua konsep GP sudah diimplemntasikan tapi belum berimplikasi apa-apa apalagi implikasinya masih jauh dari ekspektasi, sebaiknya tidak dilanjutkan. Tapi jika konsep atau gagasan di PGP belum diimplementasikan dengan baik, maka masalanya bukan di PGP melainkan masalahnya ada dikita sebagai GP. Lalu kita diposisi yang mana?

     Pendidikan Guru Penggerak merupakan salah satu terobosan dalam dunia pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidik melalui penguatan kompetensi yang relevan dan kontekstual. Dalam program ini, terdapat sepuluh modul utama yang harus dikuasai oleh para peserta, dimulai dari Filosofi Ki Hajar Dewantara yang menekankan misi besar bapak pendidikan Indonesia, yaitu pendidikan yang memerdekakan. Modul ini menjadi landasan awal untuk membentuk guru yang memiliki pemahaman mendalam tentang tujuan pendidikan.

    Selanjutnya guru dalam program Guru Penggerak juga diberikan pembelajaran tentang budaya positif di sekolah, pembelajaran berdiferensiasi, kompetensi sosial-emosional, hingga coaching dan teknik pengambilan keputusan saat dihadapkan pada dilema etika dan bujukan moral. Kompetensi lainnya yang ditekankan adalah berpikir berbasis aset, di mana guru diajarkan untuk melihat potensi setiap individu dan situasi sebagai modal dasar dalam proses pembelajaran.

Mengapa Kompetensi Ini Wajib Dimiliki oleh Guru?

    Kompetensi yang diajarkan dalam program ini tidak hanya relevan untuk satu jenis kurikulum saja, melainkan menjadi fondasi yang wajib dimiliki oleh setiap guru, apapun kurikulumnya. Seorang guru yang mampu memahami dan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, misalnya, dapat lebih efektif dalam menangani keragaman kebutuhan siswa. Selain itu, kompetensi sosial-emosional membantu guru dalam membangun hubungan positif dengan siswa, yang pada akhirnya akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

    Pendidikan Guru Penggerak menyiapkan guru untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi agen perubahan di sekolahnya. Dengan kemampuan coaching, guru mampu membimbing rekan sejawat maupun siswanya untuk mencapai potensi terbaik mereka. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kepemimpinan.

Pandangan Terhadap Pentingnya Pendidikan Guru Penggerak

    Pendapat bahwa Pendidikan Guru Penggerak tidak penting adalah pandangan yang keliru. Program ini sejatinya menjawab kebutuhan mendasar dari transformasi pendidikan di Indonesia, yakni mempersiapkan guru yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan kurikulum tetapi juga memiliki kompetensi holistik yang mampu menciptakan perubahan nyata di sekolah.

    Namun, yang perlu dievaluasi bukanlah substansi dari program ini, melainkan skema dan skenario model pendidikannya. Evaluasi perlu dilakukan pada pendekatan penyampaian materi agar lebih efektif dan berdampak nyata di lapangan. Misalnya, pemanfaatan teknologi dalam pelatihan, pelaksanaan model pembelajaran yang lebih kolaboratif, hingga pengembangan skenario pembelajaran berbasis praktik di lapangan yang lebih intensif.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Efektivitas Pendidikan Guru Penggerak

1. Model Pelatihan yang Fleksibel: Mengingat kesibukan guru, pelatihan perlu dirancang lebih fleksibel, misalnya dengan kombinasi pembelajaran daring dan luring serta penyediaan modul yang dapat dipelajari mandiri.

2. Pendampingan Berkelanjutan: Program ini sebaiknya tidak hanya berhenti pada pelatihan awal, tetapi juga dilengkapi dengan pendampingan berkelanjutan (mentoring) agar guru dapat menerapkan apa yang dipelajari di kelas.

3. Studi Kasus dan Pembelajaran Kontekstual: Penyampaian materi melalui studi kasus yang relevan dan berbasis situasi nyata akan meningkatkan keterhubungan antara teori dan praktik.

4. Evaluasi Berbasis Umpan Balik: Evaluasi yang bersifat partisipatif, di mana guru diberikan ruang untuk memberikan umpan balik tentang program, dapat menjadi masukan berharga untuk perbaikan berkelanjutan

    Demikian sehingga saya berpendapat Pendidikan Guru Penggerak bukanlah program yang bisa dianggap sepele. Kompetensi yang diajarkan menjadi bekal penting bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang bermakna, adaptif, dan kontekstual. Dengan penyempurnaan model pelatihan, diharapkan program ini bisa lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

    Kemudian Kritik publik terkait GP saya kira wajar. Tantangannya adalah kritik harus dijawab dengan fakta yang sebaliknya. Menurut Pandangan saya, PGP ini kan sesuatu yang baru, yang hasilnya tidak bisa langsung kelihatan instan. implikasi yg bisa dilihat adalah apakah upaya atau prosesnya sudah berjalan, misalnya, kinerja guru jadi lebih baik, misalnya sebelum jadi GP dia sering telat, sering tidak masuk kelas, setelah jadi GP sudah jadi rajin, sebelum jadi GP suka marah-marah, mengajar seadanya, stelah jadi GP jadi lebih mempersiapkan diri dan mengajar lebih baik, seblum jadi GP acuh untuk mengembangkan kompetensi setelah jadi GP jadi lebih bergeliat, sebelum jadi Gp perhatian dan kepedulian terhadap murid hanya sekedar memenuhi kewajiban, setelah jadi GP jadi lebih memperhatikan kebutuhan belajar murid dan mengakomodasi kebutuhan belajar murid, lebih care pada perkembangan/kemajuan murid, lebih inovatif dan berbagai hal positif lainnya saya kira ini bisa disebut sebagai implikasi positif dari PGP, namun jika ini tdk terjadi maka dapat disimpulkan bahwa baik kumer dan PGP ITU SIA-SIA

 

0 Comments:

Posting Komentar