Tatkala mengintip efbi, aku mendapati sebuah pesan masuk. Bukan pesan dari Maudy Ayunda, tapi aku merasa gembira membaca isinya.
"Maiko ". Begitu bunyi pesannya. Dari pesan yang dikirim sebelumnya, kuketahui hari ini ia mengajakku pada sebuah tempat yang ada di kota Daeng.
Yah, dia Ibu Ulfa atau Ulfa Rahma, salah satu diantara sekian sepupuku yang masih jomblo. Konotasi ibu ulfa mungkin seperti bayangan orang tua yang selalu pakai daster yang kalau harga sembako naik sukanya marah-marah sendiri, membuat orang takut menyalaminya. Tapi ini, bukan seperti yang di bayangkan, ia tidak pernah pakai daster, juga jarang marah-marah.
" Baik, dakok pi" balasku singkat padat dan jelas kusertai emocotion 😃atas pesan berisi ajakan yang dilayangkannya padaku.
Saya yang akhir-akhir ini lebih betah memesrai rebahan ketimbang aktivitas-aktivitas progresif, sempat ada niat kucansel pertemuannya. Bukan karena apa. Aku harus mandi dulu, rambut mesti kurapikan. Pakai farfum. Pokoknya macam-macamlah.
Hal itu, jadi membuatku malas kemana-mana. Tapi karena sepupuku sudah terlanjur menunggu, dan kebetulan ada urusanku di kampus pasca sarjana yang dekat dengan lokasi tempat janjian ketemu, dan ketika kutengok cermin, kelihatannya aku nampak oke-oke saja, akhirnya bersama sepupuku yang lain Ibnu Amar, kuputuskan jalan.
Tetibalah aku di lokasi. Belum lama aku duduk, Langsung saja kutanya-tanyai. Tapi pertanyaanku tidak serupa pertanyaan buk-ibuk petugas di kantor dukcapil saat melayani pembuatan E-Ktp. Dan tidak serupa pula pertanyaan bapak-bapak polisi yang di temui saat berjaga di jalan.
Pertanyaanku sedang-sedang saja. Dari hal remeh temeh hingga yang menyangkut dengan proses studynya. Dan aku terkejut di buatnya.
Tapi terkejutku bukan seperti terkejutnya Bung Dandy Laksono pada Budiman sudjatmiko terkait soal isu papua. Aku juga terheran-heran. Tapi bukan seperti terheran-herannya sebahagian masyarakat menyangkut vaksin nusantara. Melainkan, tak kusangka, wawasan sepupuku ini, boleh juga. Lumayan menggelitik nalarku. Walau kalau di bilang wawasannya hebat amat, tidak begitu juga.
Seketika itu, fikiranku langsung melayang jauh melintasi ruang dan waktu. Kubayangkan paman Karl Marx datang menghampiriku, tangan kirinya menenteng buku sampul hitam- merah bertuliskan "Konsep Manusia". Ia memukul-mukul pundakku lalu menimpaliku sebuah pertanyaan.
Kalau kutuliskan, kira-kira akan seperti begini bunyi pertanyaannya ; Woy Naq muda, hanya dalam waktu relatif singkat, sepupumu ini bermetamorfosis secepat lajunya kereta api di film india, kok bisa?
Dengan membayangi pertanyaan tajam yang di ajukan paman Marx itu, lalu aku tersontak dan berhenti sejenak untuk mau menjawabnya. Aku bersikeras tidak berlarut dalam bayang-bayang pertanyaan itu, kuanggap saja sebagai angin lalu. Tapi kali ini pertanyaan itu benar-benar merangsangku untuk berfikir.
"Begini paman Marx". Seperti itu kira-kira prolog saat aku mulai coba menjawab pertanyaan Marx yang di ajukan kepadaku.
"Klau ku pakai teori ta paman, sebagai batu pijakan bangun kerangka analisis, seperti yang ada di buku yang sedang paman pegang itu, yang mana realitaslah yang menetukan kesadaran, bukan kesadaran yang menentukan realitas, Maka antitesisku kemudian ialah bahwa sepupuku jauh progresif hari ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, dan bukanlah hal given yang sifatnya pemberian secara cuma-cuma, dan juga bukan kemampuan yang jatuh begitu saja dari langit ketujuh. Melainkan, ada kondisi materi sebagai causa primanya, Paman". Kira-kira Begitu jawabanku ke paman, Marx.
Lalu saya membayangkan, paman karl marx yang berdiri tegap di depanku, di jari tangan kanannya terselip sebatang rokok surya, tersenyum tidak manis padaku hingga empat giginya kelihatan. Barangkali itu sinyal sebagai tanda ia bersepakat dengan asumsiku. Tapi mungkin tidak sepakat sekali.
Dan betul saja. Belakangan ku ketahui, sepupuku ini banyak bermain dalam kerja-kerja internal organ. Itulah yang kumaksud sebagai kondisi materi sebagai variabel mempengaruhi tumbuh kembang wawasannya.
Tapi ku kira, tak perlu kulakukan penelitian ilmiah, uji validitas, analisis data berikut embel-embelnya supaya lebih zahih kesimpulanku ini. Sudah kubilang, untuk sekarang ini saya lagi sedang terserang penyakit malas, sudah stadium empat, tak minat melakukan hal-hal yang berbau positivistik.
Terlepas dari dialog singkatku dengan paman karl Marx yang berlangsung dalan alam fikirku. Anak kampung, yang memungut ilmu di tanah Daeng macam kami ini merupakan hal yang musykil sebenarnya. Orang kecil-- kalaulah bukan karena semangat dan optimis yang menggebu tidak mungkin kami terdampar disini.
Maka setelah semua bayang-bayang tentang karl Marx buyar dari fikiranku, ku bilang ke sepupuku ini, dengan intonasi suara bak Soekarno, sembari ku goyang-goyangkan tanganku ke udara biar kesannya lebih wow.
"Apapun yang mengkostruk cara berfikir kita, bahwa kita tidak boleh lupa dengan identitas kita sebagai orang kecil. kita hanyalah anak kampung. Tugas kita hanyalah untuk memungut serba-serbi pengetahuan. Belajar dengan sebenar-benarnya belajar. Tidak perlu ikut larut dengan life style tumpuan anak-anak muda era post-truth ini". Begitu kataku dan rupanya yang ku bilang ini didengarkan penuh khidmat.
Lalu aku teringat pada Filsafat Pendidikan orang di Kampung "Lekba tau mampeang lako tondok na tau, makpasule tau lako tondok mubangun tondok".
Makna tersebut memiliki nilai etik filosofis yang sangat dalam, lekba tau mampeang lako tondok na tau(pergi mencari di kampungya orang) dan makpasule tau lako tondok mubangun tondokta, (pulang kampung membangun kampung kita), itulah pesan orang tua leluhur di kampung tatkala kaki kanan anak cucunya hendak keluar dari gerbang kampung untuk merantau.
Melalui pesan orang tua leluhur di kampung, Semnagat mencari ilmu pengetahuan, mengelana dan semacamnya, adalah tradisi. Dan ujung dari pencarian itu mesti bergerak secara praksis untuk membangun kesadaran, transformasi sosial. Bisa dimulai dari skala akar, perlahan hingga tiba ke pucuk.
Lalu kapan ke arah kampung, Fa? Dengan suara lirih, tanyaku padanya. "Insya Allah, di waktu dekat ini". "Baiklah, Fa. semoga dipermudahkan dan lancar sampai jatuh temponya".

.jpg)
.jpg)
.png)
.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar