Hari ini guru bukanlah satu satunya sumber belajar, dan sebagai guru kita harus menerima kenyataan bahwa guru bukanlah sosok orang yang paling tahu, sebab dari segi pengetahuan dan wawasan kita kalah jauh oleh om Google, kalah terampil oleh tutorial youtube, kalah cerdas Oleh AI yang diberi pertanyaan apapun mampu dijawab, bahkan perkembangan AI hari ini sdh bisa menggantikan peran manusia level expert, sperti pekerjaan level analisis yang dikerjakan oleh 4 atau 5 orang dalam kurun waktu berhari hari, namun oleh AI bisa dilakukan dalam tempo kurang dari 5 menit.
Nah dengan kondisi ini harusnya membuat kita sebagai guru sadar bahwa guru harus terus menerus bergeliat, guru harus menerus belajar, guru harus berupaya meningkatkan kapasitas dan melakukan introspeksi diri, guru harus terus menerus berinovasi dan membawanya pada kesadaran bahwa guru itu harus menjadi roll model bagi muridnya, guru harus menginspirasi murid dengan terlebih dulu melakukannya dan menunjukkan bukti bukan hanya omong kosong.
Selain itu guru juga harus memahami potensi dan kodrat muridnya, memahami kebutuhan belajra muridnya, memberikan pilihan pilihan yang mengakomodir kecenderungan belajar muridnya, sebagaimana pikiran Kihadjar dewantara yang menganalogikan guru ibarat seorang petani yang menyiapkan lahan, mengolah lahan, menyemai bibit dan merawat tanaman sebagaimana kodratnya, dengan memperlakukan bibit padi sebagaimana harusnya menumbuhkan dan merawat padi.
Sehingga kehadiran guru adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar muridnya, dengan menjadi fasilitator dan roll model bagi anak kita untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan kodratnya masing masing, dengan demikian Bonus demografi yang kita miliki, benar benar dapat membawa bangsa ini pada kemajuan, seba Bonus demografi ini ibarat pedang bemata dua. Satu sisi adalah berkah jika kita berhasil mengambil manfaatnya, namun bonus demografi juga dapat menjadi bencana jika kualitas kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik, bonus demografi bisa menciptakan angka pengangguran yang Fantastis apabila generasi muda tdk dibekali dengan kemampuan dan skill yang mumpuni, lalu akan menjadi beban sosial, menciptakan kemiskinan ekstrem karena ketidakmampuan warga negara mengambil keuntungan dari laju pesatnya perkembangan teknologi, maka disinilah peran pendidikan sebagai eskalator bagi warga negara untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya, untuk mengangkat harkat dan martabatnya melalui bekal pengetahuan, keterampilan serta kepribadian yang ia peroleh melalui pendidikan.
Berhasil atau tidaknya murid memang bukan tanggung jawab guru sepenuhnya, tapi paling tidak guru harus dengan segenap daya dan upayanya melakukan proses dan menginspirasi muridnya untuk, menguatkan muridnya agar berani bermimpi, punya harapan harapan yang akan menguatkan langkahnya untuk menyalakan lilin demi lilin impian, membantu muridnya berjalan lalu berlarimengejar impian, menggapai bintang masa depan dengan tetap tak lupa menguatkan daya lenting mereka.
sebab yang akan pulang membawa bintang bukanlah mereka yg paling pintar, bukan yg paling hebat atau paling jago, karena mereka yang paling hebat/jago belum tentu tahan banting, belum tentu punya daya lenting. Disinilah pentingnya guru memberikan motivasi dan menguatkan daya tahan dan daya lenting murid dengan hadir sebagai roll model (menginspirasi dengan terlebih dahulu melakukannya) agar murid punya sandaran punya contoh sehingga semangat mereka tetap berkobar dan fokus pada menjaga lilin lilin impian yang kelak akan membuat mereka pulang dengan kepala tegak, membuat orang tua mereka, dan kami sebagai guru dapat berbangga walau suatu saat mungkin saja sang murid telah lupa akan peran gurunya. sebab yang terpenting bagi kami sebagai guru adalah kami mewariskan generasi yang dapat berdiri tegak ditengah perubahan dan kemajuan zaman yang berarti kami telah mewariskan kemajuan bagi generasi bangsa meskipun kami tak pernah berharap balas jasa atau imbalan apapun dari murid kami.

.jpg)
.jpg)
.png)
.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar